Sabtu, 11 April 2020

Jawaban permasalahan sandi

Reaksi dari penggunaan Reagen B2H6 sebagai berikut:

Jumat, 10 April 2020

Mekanisme Reaksi Reduksi pada Senyawa Organik

Karakteristik reaksi reduksi berlawanan dengan karakteristik reaksi oksidasi. Sebagai Hasilnya, molekul organik kehilangan oksigen dan / atau memperoleh hidrogen dalam reaksi reduksi. Digunakan simbol umum [H] untuk menunjuk pengurangan karena biasanya kita menambahkan satu atau lebih H untuk molekul selama reduksi. H ini biasanya berasal dari molekul hidrogen (H2) atau dari reagen logam hidrida. reaksi reduksi adalah pada ikatan rangkap C=O akan lebih sulit untuk direduksi dibandingkan dengan ikatan rangkap C=C.

A. Reaksi reduksi pada aldehid dan keton
Aldehid dan keton mudah direduksi masing-masing menjadi alkohol primer dan sekunder. Reduksi ini dapat dilakukan dengan bermacam cara, umumnya dengan hidrida logam.

Hidrida logam yang paling  sering digunakan untuk mereduksi Senyawa karbonil ialah litium aluminium hidrida (LiAlH4) dan natrium borohidrida (NaBH4). Ikatan logam- hidrida terpolarisasi, dengan muatan pada logam positif dan pada hidrogen muatan negatif. Sehingga reaksinya melibatkan serangan nukleofilik tak reversibel dan hidrida (H-  ) pada karbon karbonil.



Produk awalnya adalah aluminium alkoksida, yang selanjutnya terhidrolisis oleh air dan asam menghasilkan alkohol l. Hasil akhirnya adalah adisi hidrogen pada ikatan rangkap karbon-oksigen. Karena ikatan rangkap karbon-karbon tidak mudah diserang oleh nukleofili, hidrida logam dapat digunakan untuk mereduksi ikatan rangkap karbon-oksigen menjadi alkohol padanya tanpa mereduksi ikatan rangkap karbon-karbon yang terdapat pada senyawa yang sama.

1. Reduksi Aldehida atau keton menjadi Hidrokarbon

a. Reduksi metode mozingo
Prinsip reduksi ini yaitu dengan mengubah gugus karbonil menjadi tioasetal, yang selanjutnya direduksi dengan nikel raney. Dimana ikatan C-O Adah ikatan kuat dan C-S adalah ikatan yang lemah dan mudah direduksi dnegan nikel raney sehingga dapat terbentuk tioasetal.



b. Reduksi Wolff-Kishner
Aldehida dan Keton mengalami reaksi dengan hidrazin untuk membentuk turunan hidrazin. Turunan hidrazin dapat mengalami reaksi lebih lanjut dengan basa dan panas untuk membentuk alkana yang sesuai. Kombinasi dari dua reaksi ini disebut Pengurangan Wolff-Kishner.  Reduksi metode Wolff-Kishner ini suatu reduksi yang menggunakan hirdazon yang selanjutnya ditambahkan dengan suatu basa yang sangat kuat.




c. Reduksi Clemmensen
 yang digambarkan sebagai reduksi keton (atau aldehida) menjadi alkana menggunakan seng amalgam dan asam klorida pekat.




2. Reaksi aldehid atau keton menjadi alkohol
a.Pereaksi Logam Hidrida
 pereaksi ini dapat larut dengan larutan dalam air dan larutan dalam alkohol. Namun, solusinya harus bersifat alkali.





b. Reaksi cannizaro
Reaksi Aldehid dan Keton yang tidak memiliki hidrogen alpa dengan basa yang akan menghasilkan suatu alkohol dan asam karboksilat.



c.  Reduksi meerwein-ponndorf-verley
Reduksi keton menjadi alkohol dengan Al(Oi-Pr)3 dalam isopropanol.



3. Reaksi aldehid atau Keton menjadi pikanol



Tanpa adanya donor Proton, logam elektropositif mereduksi keton menjadi pikanol dengan dimerisasi radikal anion.

B. Reaksi reduksi Ester
mengkonversi ester menjadi hidrasidanya yang selajutnya direaksikan dengan benzensufonil klorida membentuk asilbenzenasulfonil hidrazin. Kemudian senyawa ini direaksikan dengan basa sehingga menghasilkan aldehid.



C. Reduksi asam karboksilat
Reaksi terjadi untuk membentuk aldehida dan kemudian alkohol primer. Karena lithium tetrahydridoaluminate bereaksi cepat dengan aldehida, tidak mungkin untuk berhenti pada tahap setengah. Kemudian akan ada reaksi selanjutnya akan membentuk alkohol primer.




Permasalahan

  1. Mengapa hibrida logam yang sering digunakan untuk mereduksi senyawa karbonil pada aldehid dan keton adalah  litium aluminium hibrida dan natrium borohibrida ?
  2. mengapa reaksi reduksi  pada ikatan rangkap C=O akan lebih sulit untuk direduksi dibandingkan dengan ikatan rangkap C=C?
  3. Mengapa pada  Reduksi Wolff-Kishner harus ditambah dengan basa yang sangat kuat, bagaimana jika ditambahkan basa lemah?


Jumat, 03 April 2020

Mekanisme Reaksi Oksidasi pada Berbagai Senyawa Organik

Oksidasi sering dilakukan dengan oksigen atau udara. oksigen yang digunakan tidak hanya oksigen bebas, tetapi juga menggunakan oksigen dari sumber lain. Contohnya, dari pekat, pada suasana asam dan suasana alkalis, dan lain sebagainya.

A. Oksidasi pada Aldehid dan Keton
Aldehid jauh lebih mudah dioksidasi daripada keton. Oksidasi aldehida menghasilkan asam dengan jumlah atom karbon yang sama. Karena reaksi ini berlangsung dengan mudah, banyak zat pengoksidasi, seperti KMnO4, CrO3, Ag2O dan perasan yang dapat digunakan, contohnya.



Aldehid begitu mudah dioksidasi sehingga sampel yang disimpan biasanya sedikit mengandung asam. Kontaminasi ini karena disebabkan oleh oksidasi udara.
Keton juga bisa dioksidasi, tetapi membutuhkan kondisi oksidasi khusus. Misalnya, sikloheksana dapat dioksidasi secara komersial menjadi asam adipat, yang merupakan suatu bahan kimia industri yang penting untuk membuat nilon.



B. Reaksi Oksidasi pada Alkohol
Alkohol yang sederhana sangat mudah terbakar membentuk uap air dan gas karbondioksida. Oleh sebab itu etanol yang digunakan sebagai bahan bakar. Alkohol teroksidasi sebagai berikut :

1.  Reaksi oksidasi alkohol primer
Reaksi oksidasi pada alkohol primer ini akan menghasilkan alkanal (aldehida), apabila didiamkan beberapa lama, maka proses oksidasi akan berlanjut menghasilkan suatu asam karboksilat. Apabila ingin menghasilkan aldehida pada oksidasi ini, maka harus lebih cepat lakukan destilasi agar tidak terjadi proses oksidasi berlanjut.
Reaksi oksidasi etanol dapat berlangsung sebagai berikut:



senyawa yang mengikat  2 gugus OH terikat pada suatu atom karbon bersifat tidak stabil, dan akan terurai dengan melepaskan1 molekul air. Jadi, senyawa yang terbentuk akan berlanjut terurai. Etanal yang dihasilkan dapat mengalami oksidasi berlanjut membentuk asam asetat.





2. Reaksi oksidasi alkohol sekunder
Pada reaksi oksidasi alkohol sekunder dioksidasi menjadi keton. Contohnya, apabila alkohol sekunder, 2-propanol, dioksidasi, maka akan terbentuk 2-propanon.



Perubahan-perubahan pada kondisi reaksi tidak akan dapat merubah produk yang terbentuk. Reaksi oksidasi pada alkohol sekunder ini berlangsung cepat.

3. Reaksi oksidasi alkohol tersier
 Reaksi oksidasi pada alkohol tersier ini  tidak dapat dioksidasi oleh natrium atau kalium dikromat(VI). Bahkan tidak ada reaksi yang terjadi. Dan tidak bisa dioksidasi pada suasana basa. Jika dioksidasi pada suasana asam akan menghasilkan produk- produk oksidasi alkena.





C. Reaksi Oksidasi pada Asam Karboksilat
Asam karboksilat adalah senyawa organik yang memiliki rumus umum R-COOH. Beberapa reaksi yang dapat terjadi pada asam karoksilat sebagai berikut:

1. Reaksi dengan basa
Asam alkanoat dapat bereaksi dengan basa dan menghasilkan garam dan air. Reaksi ini disebut reaksi penetralan. Asam alkanoat tergolong asam lemah, semakin panjang rantai alkilnya, semakin lemah asamnya. Jadi, asam alkanoat yang paling kuat adalah asam format, HCOOH.



2. Reaksi dengan alkanol
Reaksi asam karboksilat dengan alkanol akan menghasilkan ester. ester asam karboksilat adalah  senyawa yang mengandung gugus CO2R. Reaksi ini dikenal dengan reaksi esterifikasi. Reaksi umum:
RCOOH + R’OH → RCOOR’ + H2O


Permasalahan :

  1. Mengapa Aldehid lebih mudah dioksidasi dari pada keton?
  2. Mengapa reaksi oksidasi pada alkohol sekunder berlangsung cepat lebih cepat dari pada oksidasi pada alkohol primer?
  3. Mengapa alkohol tersier tidak dapat dioksidasi pada suasana basa ?

Jumat, 27 Maret 2020

Mekanisme Reaksi-Reaksi Adisi pada 
Aldehid dan Keton

Aldehid dan keto adalah senyawa organik yang dicirikan oleh adanya gugus karbonil, yang mungkin merupakan gugus fungsi paling penting dalam kimia organik. Kedua senyawa ini memiliki persamaan dan perbedaan baik itu dari segi sifat-sifat kimia, fisika dan kegunaannya.

1. Adisi nukleofilik pada gugus karbonil

Serangan nukleofili pada atom karbon dari ikatan rangkap karbon=oksigen, hal ini terjadi karena karbon memiliki muatan positif parsial. Elektron Pi pada ikatan C=O bergerak ke atom oksigen karena elektronegativitasnya dapat dengan mudah menampung muatan negatif yang diperolehnya. Apabila pada reaksi ini menggunakan pelarut hidroksilik seperti alkohol atau air, reaksi biasanya diselesaikan dengan adisi Proton padaoksigen negatif.



Karbon karbonil, yang terbentuk trigonal dan terhibridisasi sp2  pada Aldehid dan Keton awalnya, menjadi tetrahedral dan terhibridisasi sp3  pada produk reaksinya. Dengan adanya pasangan elektron bebas pada atom oksigen, maka senyawa karbonil merupakan basa Lewis lemah dan dapat diprotonasi. Secara umum, keton agak kurang reaktif terhadap nukleofili dibandingkan dengan Aldehid.

2. Adisi alkohol
Pada reaksi ini alkohol mengadopsi ikatan C=O, gugus OR akan melekat pada karbon, dan Proton melekat pada oksigen. Mekanisme pembentukan hemiasetal melibatkan tiga langkah yaitu, oksigen karbonil diprotonasi oleh katalis asam. Kemudian oksigen alkoholnya menyerang karbon karbonil, dan Proton terlepas dari oksigen positif yang dihasilkan.



Dengan adanya alkohol berlebih, hemiasetal lanjut bereaksi membentuk asetal. Salah satu kedua oksigen hemiasetal dapat terprotonasi. Jika oksigen hidroksil dprotonasi, air akan lepas dan menghasilkan karbokation yang terstabilkan resonasi. Reaksi karbokation ini dengan alkohol dan biasanya berupa pelarut dan berada dalam keadaan berlebih dan menghasilkan asetal.






Jadi Aldehid dan Keton bereaksi dengan alkohol mula-mula akan membentuk hemiasetal dan selanjutnya apabila alkoholnya berlebih maka akan membentuk asetal.

3. Adisi Air
Air sama halnya seperti alkohol yaitu nukleofili oksigen dapat mengadisi Aldehid dan Keton secara reversibel. Contohnya pada formaldehid dalam larutan berair terutama berada sebagai hidratnya. Namun sebagian besar Aldehid atau keton lainnya, Hidrat tidak bisa diisolasi karena hidrat ini mudah melepas air dan membentuk senyawa karbonil kembali.



4. Adisi Reagen grignard dan asetilida
Reagen grignard bertindak sebagai nukleofili karbon terhadap senyawa karbonil. Gugus R dari Reagen grignard mengadisi karbon karbonil secara tidak reversibel, dan membentuk ikatan karbon-karbon baru. Dalam reaksi ini asam- bas, adisi ini menguntungkan karena produknya merupaka basa yang jauh lebih lemah dari pada karbonion asalnya. Alkoksida disini dapat diprotonasi dan menghasilkan alkohol.



Reaksi dari reagen grignard dengan senyawa karbonil merupakan cara yang penting untuk menghasilkan alkohol. Jenis senyawa karbonil yang dipilih akan menentukan golongan alkohol yang akan dihasilkan. Formaldehid menghasilkan alkohol primer. Aldehid lain menghasilkan alkohol sekunder sedangakan keton menghasil alkohol tersier





5. Adisi hidrogen sianida (HCN)
Pada reaksi ini hidrogen sianida mengadisi gugus karbonil dari Aldehid dan Keton secara reversibel dan menghasilkan sianohidrin, yakni senyawa dengan hidroksil dan gugus siano menempel pada karbon yang sama. Reaksi ini menggunakan katalis basa.



6. Adisi nukleofili nitrogen
Amina, amonia dan senyawa yang berhubungan tertentu memiliki pasangan elektron bebas pada atom nitrogen dan bertindak sebagai nukleofili nitrogen terhadap atom karbon karbonil. Contohnya sebagai berikut:



Produk adisi tetrahedral yang terbentuk awalnya mirip dengan hemiasetal, tetapi dengan gugus NH menggantikan salah satu oksigen. Produk adisi ini lalu melepas air membentuk produk dengan ikatan rangkap yaitu pada karbon- nitrogen. Dengan Amina primer, produknya disebut imina.

Permasalahan

  1. Mengapa keton agak kurang reaktif terhadap nukleofili dibandingkan aldehida?
  2. Pada blog saya telah dijelaskan mengenai adisi HCN pada aldehid dan keton. Bagaimana jika HCN disini digantikan dengan asam umum lainnya seperti HCl apakah bisa dijadikan?
  3. Mengapa Jenis senyawa karbonil reaksi grignard yang dipilih akan menentukan golongan alkohol yang akan dihasilkan?

Jumat, 20 Maret 2020

Mekanisme Reaksi Bersaing SN2 dan E2

Pembahasan kali ini mengenai bersaingnya reaksi SN2 dan E2 yang mana pada materi sebelumnya sudah kita bahas mengenai reaksi SN2 dan reaksi E2 dimana kedua reaksi tersebut memiliki mekanisme yang hampir sama. kedua reaksi ini sering berada dalam kondisi yang sama sehingga menyebabkan adanya reaksi bersaing antara SN2 dan E2.

Pada reaksi suatu alkil halida, jika suatu nukleofilik bereaksi dengan alkil halida maka akan memberikan dua kemungkinan reaksi yang terjadi yaitu reaksi substitusi dan eliminasi. Reaksi substitusi akan terjadi jika nukleofil (basa) menyerang atom karbon yang mengikat gugus pergi, sedangakan eliminasi terjadi jika nukleofil (basa) menyerang suatu atom hidrogen. Perhatikan contoh berikut:






Reaksi SN2 dan E2 ini dikatakan bersaing karena pada mekanisme reaksinya terjadi dengan kondisi yang sama, yakni sama- sama menggunakan basa kuat dan pelarut yang polar. Sebagai contoh pada reaksi ini dengan menggunakan alkil halida primer, akan memberikan kemungkinan terjadinya reaksi SN2 dan E2. Dengan kebanyakan nukleofili, halida primer menghasilkan terutama produk substitusi (SN2). Apabila substratnya alkil halida primer maka hasil reaksi lebih bagus. Karena alkil halida primer sangat reaktif pada reaksi SN2 dan kurang reaktif pada reaksi E2.  Hanya dengan nukleofili yang sangat basa dan sangat meriah (memerlukan banyak tempat), akan terlihat proses E2 yang lebih cenderung terjadi. Contohnya seperti berikut:



Apabila temperatur dinaikan maka yang terjadi adalah laju reaksi substitusi dan eliminasi juga akan naik. Tetapi Kenaikan laju reaksi eliminasi lebih besar dari pada reaksi eliminasi biasanya.


Permasalahan

  1. Mengapa semakin tinggi temperatur, produk E2 yang dihasilkan banyak juga?
  2. Pada kondisi yang bagaimana E2 dapat mendominasi reaksi bersaing antara SN2 dan E2 ini?
  3. Mengapa reaksi SN2 dan E2 bersaing? Apa yang menyebabkan kedua reaksi ini menjadi reaksi bersaing?

Jumat, 13 Maret 2020

Mekanisme Reaksi Bersaing SN1 dan E1

Pembahasan kali ini mengenai bersaingnya reaksi SN1 dan E1 yang mana pada materi sebelumnya sudah kita bahas mengenai reaksi SN1 dan reaksi E1 dimana kedua reaksi yang ersebut memiliki mekanisme yang hampir sama. Meskipun SN1 dan E1 ini dilihat dari simbolnya sudah berbeda dan juga satunya berupa substitusi dan satunya lagi berupa eliminasi, tapi hanya sedikit yang membedakan kedua mekanisme reaksi nya tersebut.

Seperti yang ang telah dijelaskan sebelumnya bahwa keadaan yang mendukung reaksi SN1 juga mendukung reaksi E1, dimana pada pada langkah pertama serta penentuan tingkat dalam prosesnya yaitu terlepasnya gugus pergi yang kemudian akan membentuk karbokation. Tetapi pada langkah yang kedua SN1 dan E1 ini ada perbedaan dimana nukleofili H2O tidak menyerang Karbo yang kekurangan elektron tapi merebut hidrogen dari kation terbutil yang kemudian menghasilkan propena.

Reaksi SN1 dan reaksi E1 ini keduanya menggunakan alkil halida tersier, sehingga dapat mempercepat reaksinya. Dengan nukleofili lemah dan pelarut polar mekanisme SN1 dan E1 ini bersaing. Seperti contoh berikut.



Reaksi E1 biasanya hanya berlangsung dengan nukleofil yang buruk yang mana nukleofil yang mempunyai basa rendah. Dengan meningkatnya nukleofilisitas, sehingga reaksi SN1 lebih disukai sedangkan reaksi E1 lebih disukai dengan peningkatan kebasaan Pada mekanisme reaksi bersaing SN1 dan E1 ini hasil yang biasanya dihasilkan lebih dominan itu adalah reaksi SN1 dari pada reaksi  E1. Meskipun suhunya sudah diperbesar, manfaatnya agar dapat memperbesar proporsi dari reaksi E1 namun tetap saja hasil yang dominan adalah reaksi SN1


Permasalahan

  1. Mengapa reaksi SN1 dan E1 ini dapat bersaing?
  2. Reaksi bersaing antara SN1 dan E1 umumnya menggunakan alkil halide tersier, bagaimanakah jika menggunakan alkil halida sekunder, apakah masih terjadi reaksi bersaing? 
  3. Mengapa pada reaksi bersaing SN1 dan E1 ini produk yang dihasilkan lebih dominan SN1 dibanding E1

Rabu, 04 Maret 2020

Mekanisme Reaksi Eliminasi E1

Mekanisme E1 ialah proses dua langkah. Langkah pertama yaitu ionisasi substrat yang menentukan laju ( lambat) untuk menghasilkan karbokation



Dengan demikian ada dua reaksi yang memungkinkan untuk karbokation. Karbokation dapat bergabung dengan nukleofili, atau dapat kehilangan satu Proton dari atom C di sebelah karbon positif seperti hal nya yang ditunjukkan oleh panah lengkung dan menghasilkan alkena ( proses E1 ).



Karakteristik Mekanisme Reaksi E1


  • Terdapat dua tahap pada mekanisme reaksi E1 ini yaitu ionisasi dan deprotonasi  
  1. Tahap ionisasi yaitu putusnya ikatan karbon- halogen yang menghasilkan zat antara karbokation. Tahap ini merupakan tahap lambat penentu laju reaksi.
  2. tahap deprotonasi karbokation yaitu suatu tahap dimana hilangnya satu proton tetangga menghasilkan alkena. Tahap ini merupakan tahap cepat penentu laju reaksi.
  • Umumnya reaksi E1 terjadi pada alkil halida tersier
  • Reaksi biasanya berlangsung hanya dalam keadaan basah lemah
  • Laju reaksinya hanya dipengaruhi oleh konsentrasi alkil halida
  • Efek isotop deuterium sekunder yang lebih besar dari satu dapat teramati
  • Pada reaksi E1 ini tidak membutuhkan antiperiplanar
  • Pada reaksi ini adanya reaksi penataan ulang karbokation.

Reaksi eliminasi berlangsung dengan alkil halida yang sangat bersubstitusi. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena alkil halida yang sangat bersubstitusi sangat meruah, dan karbokation yang sangat bersubstitusi lebih stabil dibanding kation tersubstitusi primer.

Permasalahan

  1. Mengapa mekanisme reaksi E1 biasanya terjadi hanya dalam kehadiran basa lemah?
  2. Mengapa karbokation pada reaksi E1 dapat bergabung dengan nukleofili?
  3. Bagaimana jika pada rekasi eliminasi E1 ini menggunakan alkil halida primer?